Anak Normal Yang Berkebutuhan Khusus

Seorang ibu mengeluh pada saya, jika anaknya susah sekali diatur. Bahkan apapun harus dilayani. Beliau pernah membaca tulisan saya tentang Generasi Home Service dan merasa anaknya sudah menjadi bagian dari generasi itu.

Seringkali keluhan seperti ini penyebabnya adalah orang tuanya sendiri. Anak sudah bisa makan masih disuapin. Anak sudah bisa jalan masih diambilkan makanan dan minuman. Anak sudah bisa buat susu atau teh sendiri masih juga dibuatkan. Anak bisa cuci piring sendiri masih saja dicucikan. Anak sudah bisa membereskan kamar sendiri masih dibereskan. Anak sudah bisa mandi sendiri masih dimandikan. Anak sudah bisa menyiapkan baju sendiri masih disiapkan. Anak sudah bisa membereskan mainan sendiri masih dibereskan tanpa minta anak bertanggungjawab atas mainannya yang berantakan.

Mendidik itu bukan Mendadak. Artinya ada proses pembiasaan, jika tak biasa maka anak tak akan bisa melakukannya. Membuka bungkus permen atau jajanan saja, masih banyak anak yang malas buka sendiri dan minta dibukakan. Pernah suatu kali, anak saya saat umur 9 tahun minta dibukakan jajanan yang dibungkus plastik agak tebal, jadi susah buat disobek begitu saja. Saya tidak serta merta membantunya, saya bilang pada dia “Dek itu di laci ada gunting kan? Coba ambil dan gunting sendiri, gunakan motorik halusmu buat belajar menggunting. Anak di Paud aja bisa kok menggunting sendiri, masa usia kamu sudah 9 tahun kayak gitu saja belum bisa. Nanti Ibu masukkan lagi ke Paud kalau buka jajanan saja masih harus minta tolong Ibu.”

Hingga saat ini, anak anak sudah paham bahwa Ibunya akan “galak” jika dimintai tolong masalah sepele yang bisa mereka lakukan sendiri. Goreng telur, nuget, buat mie atau sekadar menghangatkan makanan di oven sudah bisa mereka lakukan sendiri sejak kelas 3 SD. Beres-beres kamar sudah saya minta sejak kelas 4SD. Itu pun dengan proses. Awalnya hanya membereskan ruangan agar bersih dari mainan, lalu bereskan tempat tidur. Kemudian bertanggungjawab pada kerapihan lemari pakaian dan meja belajar masing masing.

Namun jangan salah.. sekali lagi mendidik itu tidak mendadak. Jangan harap anak mau melakukan semua itu dengan sekali perintah. Hari ini kita buat aturan, hari ini juga harus sesuai ketentuan. Bicarakan dengan anak prosesnya. Anak juga punya hak mengemukakan pendapatnya. Jika dia merasa keberatan cobalah pahami bagian mana yang menurut dia tidak mudah. Berikan contoh dan latih anak melakukannya. Misalnya melipat selimut yang agak besar. Berikan contoh dulu, jika nanti hasilnya belum serapih yang kita inginkan tidak mengapa. Toh itu buat latihan kemandirian. Semakin lama nanti akan semakin rapih karena jam terbangnya makin tinggi.

Contoh lain mencuci piring, biasakan setiap mereka menggunakan priring maka aturannya harus segera dicuci kembali. Tidak peduli mereka harus segera melakukan hal lain tapi mencuci satu piring saja itu tak akan memakan waktu lama. Mulai usia berapa? Silahkan googling saja indikator perkembangan anak sesuai usia anak. Di buku pos yandu kalau pernah baca, ada juga indikator itu sampai usia balita harus bisa apa saja. Nah jika ada anak yang tidak sesuai indikator tumbuh kembang yang ada dalam ketentuan itu berarti tumbuh kembang anak Anda belum maksimal. Potensinya ada tetapi tidak digunakan. Jadi harus distimulasi lebih intensif lagi.

Melatih anak agar mandiri ini sangat penting dilakukan sejak usia dini. Saya masih melihat ada orangtua yang tidak tega melatih toilet training . Orang tuanya ini membiarkan anaknya pup di pampers sambil berdiri padahal umurnya sudah 5 tahun. Ada juga anak yang sudah SMP masih dicebokin karena merasa jijik jika harus cebok sendiri. Mau sampai kapan kayak begitu terus ?

Terkadang saya malah kagum pada anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka banyak yang lebih mandiri daripada anak normal. Dalam keterbatasannya ABK ini justru ingin melampaui hal yang dianggap tak bisa dan tidak mungkin. Mengapa orangtua anak normal malah membuat anaknya menjadi berkebutuhan khusus bak bayi dewasa yang yang harus dilayani semua permintaanya.

Ayoo jadi orangtua cerdas! Tega bukan berarti tak sayang. Justru karena karena sayang maka orang tua harus memastikan tumbuh kembang anak sesuai indikator usianya.

 

 

Ditulis Oleh : Deassy M Destiani

Komite SD Muhammadiyah Purwodiningratan Satu Yogyakarta

Wali Murid Hananina Kelas V.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read previous post:
Mau? Jadi Penyiar atau Public Speaker

Radio Edukasi (RE) adalah stasiun radio yang menyajikan komposisi acara siaran pendidikan (baik formal maupun nonformal), informasi/berita pendidikan, hiburan, dan

Close