Peradaban “Membaca” & “Menulis”

Muh. Musawwir S,Q. Guru Agama SD Muh. Purwosatu Jogja

Suatu ketika Aristoteles didatangi oleh salah seorang muridnya, sambil mengeluh, sang murid berkata ”Wahai guruku aku tidak punya lagi semangat untuk belajar, aku sudah tidak punya minat baca, rasanya aku sudah ingin ’gantung buku’. Aristoteles menasehati, ”Jangan sampai hal itu terjadi, tumbuhkan motivasi itu kembali dan pikirkan keputusanmu! Sambil sang murid diizinkan pulang. Keesokan harinya murid itu kembali menghadap dan menampakkan kelesuhannya. Aku sudah mengusahakannya dan rupanya motivasi belajar dan minat baca saya sudah terkubur jauh ke dalam.” Aristoteles kembali bertutur, ”Kalau begitu saya hanya ingin mengingatkan supaya kamu menyediakan sesuatu.” ”Apa itu Guru?” tanya sang murid. Dengan penuh bijaksana Aristoteles berkata, ”Bersedialah menyesal karena kebodohan dan keterbelakanganmu!”

”Membaca” adalah suatu kata yang tidak asing lagi bagi semua kalangan, terkhusus bagi para penuntut ilmu (pelajar & mahasiswa), sebab ia adalah gerbang untuk memperoleh informasi dan pengetahuan tentang segala seuatu. Budaya membaca inilah yang membekali manusia untuk membangun suatu peradaban bagi dirinya maupun lingkungannya. Sebaliknya, keterbelakangan peradaban dari setiap individu maupun kelompok banyak disebabkan oleh kurangnya minat baca.

Quraish Shihab mengatakan bahwa perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang diberikan kepada umat manusia, karena merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa “membaca” adalah syarat utama guna membangun peradaban.

Semakin luas pembacaan, maka semakin tinggi peradaban, sehingga tidak mustahil jika pada suatu ketika, “Manusia” akan didefenisikan sebagai “Makhluk Membaca”. Boleh jadi ini merupakan salah satu hikmah mengapa ayat yang pertama kali diturunkan secara mutlak ialah perintah ”اقرأ” yang artinya bacalah. Ini mengindikasikan bahwa awal dari setiap kebaikan ialah ilmu.

Membaca berbagai macam hal akan menjadikan seseorang lebih bijak dalam menghadapi persoalan kehidupan yang sedemikian kompleks. Pada ayat pertama surah al-’alaq Allah tidak menjelaskan objek bacaan (mafú>l bih) sehingga tidak jelas apa yang harus dibaca; apakah itu al-Qur’an ataupun yang lainnya. Perintah membaca dalam wahyu pertama itu diulang sebanyak dua kali tanpa menjelaskan objek bacaannya, padahal lafal qara’a yang terulang di tempat lain sebanyak 15 kali dalam berbagai konjungsinya, semua menyebut objek. Olehnya itu, dapat disimpulkan bahwa di dalam ayat pertama ini Tuhan tidak membatasi objek bacaan atau materinya, tetapi yang perlu ditekankan ialah cara membaca atau metodenya, yang ditegaskan dengan perintah iqra’ bi ismi rabbik, maka apa saja yang dibaca harus atas nama Allah swt..

Kegiatan membaca dapat dilakukan dengan tiga pola, yaitu membaca sesuatu yang tersurat  dalam rangka penambahan pengetahuan, membaca sesuatu yang telah terjadi, dan membaca sesuatu yang tersirat di alam raya ini. Pada surah Ali-Imran Allah swt. memerintahkan manusia untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi. Ibn ‘Aun berkata berpikir itu menghilangkan kelalaian dan mengadakan ketakutan bagi qalb sebagaimana mengadakan air bagi tumbuhan. Membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam al-Qurán dapat menghasilkan ilmu agama Islam seperti fiqih, tauhid, akhlak dan sebagainya. Sedangkan membaca ayat-ayat Allah di jagad raya dapat menghasilkan sains seperti fisika, biologi, kimia, astronomi, geologi, botani dan lain sebagainya. Selanjutnya, membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam diri manusia dari segi fisiknya menghasilkan sains seperti ilmu kedokteran dan ilmu tentang raga, dan dari segi tingkah lakunya meghasilkan ilmu ekonomi, ilmu politik, llmu sosiologi, antrpologi dan sebagainya. Dan dari segi kejiwaan menghasilkan ilmu jiwa. Dengan demikian, karena obyek ontologis seluruh ilmu tersebut adalah ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya ilmu itu pada hakekatnya milik Allah, dan harus diabdikan untuk Allah. Manusia hanya menemukan dan memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut. Pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut harus ditujukan untuk mengenal, mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah. Dengan demikian, ayat pertama surah al-álaq ini terkait erat dengan obyek, sasaran dan tujuan pendidikan.

Pada ayat ketiga Allah kembali mengulang kata iqra’. Alasan mengapa perintah itu diulang, ulama berbeda pendapat. Di antaranya menyatakan bahwa pengulangan dimaksudkan untuk memberi tekanan bahwa membaca memang harus diulang supaya orang semakin mengerti dan semakin mantap ilmunya. Perintah membaca pada ayat ketiga ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa tuhan yang menciptakan manusia adalah akram (Maha Mulia/Pemurah). Artinya, dia memberi hambanya dengan amat cepat, dalam jumlah yang banyak dan besar sekali manfaatnya, salah satu bentuk pemberian itu ialah ilmu pengetahuan, wawasan dan kebijaksanaan yang akan diperoleh jika ia banyak membaca.

Setelah perintah membaca, ada hal lain yang sangat ditekankan dalam wahyu pertama ini, yaitu kegiatan tulis menulis. Pada ayat keempat surah al-‘alaq menerangkan bahwa Allah mengajar manusia dengan pena. Jika ada pena, berarti ada sesuatu yang dihasilkan oleh pena yaitu tulisan. Ini mengindikasikan bahwa Allah swt. memberi kemampuan pada manusia yaitu bahasa, yang dengannya seseorang dapat menyampaikan perasaan dan pengertiannya kepada orang secara efektif. Bahasa yang mula-mula diucapkan itu lalu dituliskan. Adanya tulisan menyebabkan apa yang dituturkan tersimpan, dapat dibaca kembali, dipikirkan lagi, dan disimpulkan dengan lebih cermat.

Maksud Allah mengajar manusia dengan qalam ialah mengajar tulisan, ini mengindikasikan betapa pentingnya yang namanya menulis, karena tiada ilmu yang tertulis dan terikat, tiada berita-berita terdahulu, dan kitab-kitab Allah yang  diturunkan kecuali dengan adanya tulisan. Sehingga ayat ini memerintahkan manusia untuk menulis segala sesuatu yang bermanfaat karena Allah mengajar manusia dengan qalam (pena/tulisan). Sebagaimana hadis nabi yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Umar ra. berkata: saya mengatakan : wahai Rasulullah aku menulis hadis yang aku dengar darimu, Rasulullah saw. bersabda : ya, tulislah karena sesungguhnya Allah mengajar manusia dengan qalam.

Namun, untuk menghasilkan sebuah tulisan tentunya harus melalui proses membaca terlebih dahulu; baik itu membaca hal-hal yang tersurat maupun yang tersirat. Sehingga sebuah karya atau tulisan yang luar biasa ialah ketika sang penulis telah membaca berbagai macam buku dan telah melalui berbagai macam pengalaman sebagai suatu proses pembacaannya terhadap alam raya.

Spirit wahyu pertama inilah yang menjadikan Islam pada abad pertengahan berhasil mencapai puncak keemasan dalam hal peradabannya, utamanya pada bidang ilmu pengetahuan. Ironisnya, fakta saat ini menyatakan bahwa minat baca atau keilmuan dari orang Islam dianggap tertinggal dibandingkan dengan Barat. Syekh Muhammad Abduh (1845-1905) pernah mensinyalir bahwa dia menemukan Islam dipraktekkan di barat, dalam banyak hal, nilai-nilai keislaman berjalan baik di barat, seperti kejujuran, kesungguhan, kerja keras, keuletan, kebersihan, menghargai waktu dan yang tak kalah suksesnya adalah semangat membaca dan menulis sudah sangat berkembang di dunia barat.

Membaca seharusnya dilakoni oleh manusia selama hidupnya. Proses tersebut tidak boleh berhenti, sebab ia layaknya nyawa yang membuat kehidupan seseorang menjadi bermakna. Akhirnya, sebagai makhluk yang diciptakan untuk berpikir tentunya mari kita kembali menghidupkan budaya “membaca” dan “menulis” sebagai suatu proses menuntut ilmu, baik itu membaca hal-hal yang tersurat maupun membaca hal-hal yang tersirat dalam diri sendiri maupun alam raya ini. Menuntut ilmu tak hanya dapat dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa namun semua kalangan mampu untuk melakukannya yang tentunya dengan caranya masing-masing.

Kita perlu kembali belajar membaca, merekonstruksi makna dari kata “membaca”. Membaca bukan sekadar menghimpun huruf-huruf sehingga menjadi sebuah kata atau kalimat hingga memiliki arti. Sebab, membaca sesungguhnya tidak harus identik dengan buku. Namun, membaca itu mencakup proses mengenali, merenungkan, memahami segala sesuatu baik yang tersurat di dalam sebuah buku maupun yang terhampar dalam kehidupan, baik yang konkrit maupun abstrak.

 

 

REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA

al-Baghawi>, Abu> Muh}ammad al-H{usain bin Mas’u>d. Ma’a>lim al-Tanzi>l fi> Tafsi>r al-Qur’a>n, Juz. II. Beirut: Da>r T{ayyibah, 1417 H.

Baidan, Nashruddin. Tafsir Maudhu’i. Yogyakarta: pustaka pelajar, 2001.

al-Baid}a>wi>, Na>s}ir al-Di>n Abu> Sa’i>d Abdillah bin ‘Umar bin Muh}ammad al-Syi>ra>zi>. Anwa>r al-Tanzi>l wa Asra>r al-Ta’wi>l, Juz. V. Cet I; Beirut: Da>r Ih}ya> al-Tura>s\ al-‘Arabi>, 1418 H.

Mahmud, H. Sakib. Mutiara Juz ‘Amma. Cet I; Bandung: Mizan, 2005.

  1. M. Yusuf, Kadar. Tafsir Tarbawi. Cet II; Pekanbaru Riau: Zanafa Publishing, 2012.

Nata, H. Abuddin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Cet II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

al-Nu’ma>n, Abu> H{afs} Sira>j al-Di>n ‘Umar bin ‘Ali> bin ‘A<dil al-H{anbali> al-Dimasyqi>. al-Luba>b fi> ‘Ulu>m al-Kita>b, Juz. XX. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Alamiyyah, 11419 H.

al-Sa’di>, ‘Abdul Rah}man bin Na>s}ir bin ‘Abdillah. Taysi>r al-Kari>m al-Rah}man fi> Tafsi>r al-Manna>n. t.t: Muassasah al-Risa>lah, 1420 H/2000 M.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Cet. VII; Bandung: Mizan, 1994.

al-Zuhaili>, Wah}bah bin Mus}t}afa>. al-Tafsi>r al-Muni>r fi>-al-‘Aqi>dah wa al-Syari>’ah wa al-Manhaj. Juz. XI. Cet II; Damaskus: Da>r al-Fikr, 1418 H.

 

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read previous post:
Update Info Milad 49thPurwosatu

  DOWNLOAD  PROPOSAL KEGIATAN  Milad 49th "Makin Maju Bersinar Selalu!" 1.) Informasi Lomba Siswa TK se-DIY (Mewarnai, Hafalan Surat Pendek, Menyanyi)

Close